Rabu, 25 November 2009

Filosofi - Filosofi Rumah Adat Kalimantan Selatan

Filosofi-Filosofi Rumah Adat Kalimantan Selatan


Dwitunggal Semesta

“Maharaja Suryanata” Manifestasi dewa Matahari (Surya).


- Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos.

- Rumah Bubungan Tinggi melambangkan berpadunya Dunia Atas & Dunia Bawah.


“Puteri Junjung Buih” Lambang air & kesuburan tanah.




Pohon Hayat & Payung















- Atap rumah Banjar Bubungan Tinggi yang menjulang ke atas merupakan citra dasar sebuah “Pohon Hayat” yang merupakan lambang kosmis (pencerminan dimensi-dimensi dari kesatuan semesta).

- Atap rumah Banjar Bubungan Tinggi yang menjulang ke atas merupakan citra dasar sebuah “Payung” yang menunjukkan satu orientasi kekuasaan ke atas (lambang kebangsawanan yang biasa menggunakan “Payung Kuning”).


Simetris

- Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi yang simetris terlihat pada bentuk sayap bangunan atau anjung yang terdiri atas Ajung Kanan dan Anjung Kiwa.

- Filosofi simetris (seimbang) dalam pemerintahan Kerajaan Banjar, yang membagi kementerian menjadi Mantri Panganan (kelompok menteri kanan) dan Mantri Pangiwa (kelompok menteri kiri).

- Konsep simetris tercermin pada rumah Bubungan Tinggi.






Kepala - Badan - Kaki


- Bentuk rumah Bubungan Tinggi diibaratkan tubuh manusia yang terbagi menjadi bagian secara vertikal yaitu:

1. Kepala

2. Badan

3. Kaki

- Anjung diibaratkan sebagai tangan kanan dan tangan kiri.















Tawing Halat

- Ruang dalam rumah Banjar Bubungan Tinggi terbagi menjadi ruang yang bersifat private dan semi private.

- Diantara ruang Panampik Basar yang bersifat semi private dengan ruang Palidangan yang bersifat private dipisahkan oleh Tawing Halat artinya “dinding pemisah”.

- Tawing Halat ini bagian tengahnya dapat dibuka sehingga seolah-olah suatu garis pemisah transparan antara dua dunia (luar dan dalam) menjadi terbuka.








Denah Cacak Burung

- Denah rumah Banjar Bubungan Tinggi berbentuk “tanda tambah” yang merupakan perpotongan dari poros-poros bangunan yaitu dari arah muka ke belakang dan dari arah kanan ke kiri yang membentuk pola denah Cacak Burung yang sakral.

- Ruang Palidangan merupakan titik perpotongan poros-poros bangunan. Secara kosmologis maka disinilah bagian paling utama dari rumah Banjar Bubungan Tinggi.

- Tawing Halat melindungi area “dalam” yang merupakan titik pusat bangunan yaitu ruang Palidangan.




Tata Nilai Ruang

Pada rumah Banjar Bubungan Tinggi (istana) terdapat ruang Semi Publik yaitu Serambi atau surambi yang berjenjang letaknya secara kronologis terdiri dari surambi muka, surambi sambutan, dan terakhir surambi Pamedangan sebelum memasuki pintu utama (Lawang Hadapan) pada dinding depan (Tawing Hadapan ) yang diukir dengan indah. Setelah memasuki Pintu utama akan memasuki ruang Semi Private. Pengunjung kembali menapaki lantai yang berjenjang terdiri dari Panampik Kacil di bawah, Panampik Tangah di tengah dan Panampik Basar di atas pada depan Tawing Halat atau "dinding tengah" yang menunjukkan adanya tata nilai ruang yang hierarkis.

- Ruang Panampik Kecil tempat bagi anak-anak,

- Ruang Panampik Tangah sebagai tempat orang-orang biasa atau para pemuda,

- Ruang Panampik Basar yang diperuntukkan untuk tokoh-tokoh masyarakat, hanya orang yang berpengetahuan luas dan terpandang.

Hal ini menunjukkan adanya suatu tatakrama sekaligus mencerminkan adanya pelapisan sosial masyarakat Banjar tempo dulu yang terdiri dari lapisan atas adalah golongan berdarah biru disebut Tutus Raja (bangsawan) dan lapisan bawah adalah golongan Jaba (rakyat) serta diantarakeduanya adalah golongan rakyat biasa yang telah mendapatkan jabatan-jabatan dalam Kerajaan beserta kaum hartawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar